Tersebutlah satu benua yang didiami oleh dua Negara. Salah satunya adalah negeri Stera. Negeri Stera memang tidak sebesar dan semaju Negara tetangga, negeri Zarashvino, tetapi Negara tersebut indah dan damai. Seluruh rakyat negeri Stera tidak ada yang kekurangan dan sejahtera. Raja dan Ratu yang memerintah negeri Stera sangat disayangi oleh rakyatnya. Sang Raja bernama Alfred Lyon von Scheidner, sementara sang ratu bernama Cecilia Kireya von Scheidner. Bertahun-tahun tidak mempunyai keturunan, mereka mencoba segala cara namun tidak berhasil juga. Sampai suatu ketika, kepala juru masak kerajaan melahirkan anak perempuan kembar. Sang ratu pun mengadopsi anak kembar pertama dan anak kembar yang terakhir tetap diasuh oleh keluarganya sendiri. Anak pertama bernama Alexandrina Etoile van Laurant, yang kemudian nama keluarganya diganti menjadi von Scheidner. Adiknya bernama Nathalia Noella van Laurant. Lexa, nama panggilan Alexandrina, diangkat menjadi putri kerajaan Stera. Adiknya, Nathalia, bekerja sebagai pelayan pribadi Lexa. Walau berbeda status, mereka tetap bersama dan tak dapat terpisahkan.

 

Suatu ketika, di taman kerajaan terdengar dentingan pedang yang nyaring. Terlihat Raja Alferd dan Lexa sedang mengadu ketangkasan pedang mereka. Mereka terlihat lihai memainkan pedang dan terus mempertahankan kedudukan. Ketika terlihat sebuah celah yang tidak disadari oleh salah seorang dari mereka… Serentak mereka berhenti.

“Aku sudah bilang, aku sudah menyaingi ayah sekarang!” kata Lexa menurunkan pedangnya dari leher Raja Alfred. Lexa melihat celah dan menghunuskan pedangnya ke leher Raja Alfred. Raja Alfred tertawa melihat tingkah putri angkatnya itu.

“Hahaha, iya. Ayah mengaku kalah. Sebenarnya ayah tidak terima, tapi ayah sadar kalau ayah makin tua dan kegesitan ayah makin berkurang. Jadi, ayah terima saja.”

“Alasan yang dibuat-buat. Sudah, kalah ya kalah saja, ayah.” kata Lexa mengejek ayah angkatnya. Merekapun sama-sama tertawa. Tak lama, Nathalia datang sambil membawa makanan kecil.

“Saatnya istirahat, Paduka Raja. Lexa, aku sudah buat kue blueberry kesukaanmu. Untuk Paduka Raja, sudah saya siapkan kue tiramisu favorit anda.”. Lexa pun buru-buru mengambil bagiannya. Lalu, ia memakan kue itu sambil berdiri. Melihat hal itu, Raja Alfred menjewernya. Lexa mengaduh kesakitan dan kue yang ia genggam pun terjatuh.

“Kalau makan, jangan sambil berdiri, nak. Sudah berapa kali ayah menasihatimu agar bersikap sedikit sopan.”

“Ini sudah ke-251 kalinya ayah sudah menjewerku. Lama-lama telingaku lebar kalau terus-terusan dijewer oleh ayah.” Bantah Lexa. Sesudah hukuman itu, Lexa pun duduk dan menikmati kue yang disediakan kembali oleh Nathalia.

“Nathalie, apa jadwalku selanjutnya? Rapat dengan perdana mentri lagi?” Tanya Lexa ke Nathalia. Ia memanggil Nathalia dengan nama kecilnya.

“Tidak ada apa-apa. Hari ini kamu bebas dari tugas kerajaan.”. Mendengar hal itu, Lexa berteriak kencang. Tapi kemudian teriakan kebahagiaan itu dihentikan oleh pukulan ayah angkatnya.

“Ayah! Ini sudah ke-175 ayah memukulku! Aku tidak ingin otakku miring gara-gara terus dipukul ayah.”

“Kalau tidak ingin dipukul ayah terus, belajarlah bersikap sopan santun. Tirulah adikmu! Dia adalah contoh yang baik.” Kata Raja Alfred memuji Nathalie. Lexa hanya diam. Raja Alfred masuk ke dalam istana, meninggalkan kedua kakak-beradik ini. Lexa sebenarnya dongkol karena ayah angkatnya membandingkannya dengan Nathalie. Tapi memang benar adanya, Nathalie itu sangat lemah lembut. Ia sangat sopan dengan orang banyak, sikapnya sangat anggun, ditambah wajahnya yang cantik sering menarik perhatian para pria di Negeri Stera. Rambut merah sepinggangnya selalu menjadi pusat perhatian para perempuan di Negeri Stera, walau sebenarnya, rambut hitam selutut Lexa yang lebih disukai. Lexa selalu berpikir kalau Nathalie lebih cocok menjadi putri kerajaan Stera daripada dirinya. Tapi entah kenapa raja dan ratu lebih memilih Lexa daripada Nathalie, yang lebih cocok menjadi putri.

 

“Kadang aku merasa kamu lebih pantas menyandang gelar putri kerajaan Stera.” Gumam Lexa dengan muka kusut. Nathalie menatap Lexa dengan raut wajah yang aneh.

“Aku? Lebih pantas darimu? Yang benar saja. Malah kamu lebih pantas menjadi putri daripada aku.”

“Tapi ayah selalu membanding-bandingkan aku dengan kamu. Aku merasa sedikit tidak suka.” Mendengar hal itu, Nathalie tersenyum dan memegang pundak Lexa.

“Oh, kamu tidak suka kalau Paduka Raja membandingkan aku dengan kamu, begitu?” Lexa menggeleng pelan.

“Kalau begitu jadilah diri sendiri,” kata Nathalie mengacak-acak rambut Lexa.

“Jadi diri sendiri?”

“Yap! Jadilah Lexa yang biasanya. Jadilah Lexa yang tomboy, yang sering melarikan diri dari pelajaran table manner, yang sering makan sambil berdiri. Seperti itu saja. Hanya, kamu memperbaiki sikap yang menurut orang lain itu jelek.”

“Itu saja?” Lexa terheran-heran dengan jawaban Nathalie yang singkat.

“Iya.”

“Tapi kenapa aku tidak boleh merubah sikapku yang tomboy dan liar itu?” Nathalie pun tertawa kecil.

“Hahaha. Boleh, tapi alangkah baiknya jika kamu memperbaikinya. Karena cuma kamu yang mempunyai sifat yang berani dan tidak ragu-ragu di keluarga ini. Itulah mengapa semua orang di keluarga ini, termasuk keluarga von Scheidner dan Keluarga van Laurant, sangat menyayangimu dan memilihmu sebagai putri kerajaan Stera.” Nathalie menjelaskan panjang lebar sampai ia tidak menyadari wajah Lexa berurai air mata haru. Dengan cepat, ia menghapusnya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi, Lexa tidak tahu kalau Nathalie menyadarinya. Feeling anak kembar memang kuat kalau sudah menyangkut saudara kembarnya sendiri.

“Ke dalam yuk. Saatnya makan siang.” Kata Nathalie sambil membawa nampan. Lexa pun berdiri dan membantu adik kembarnya.

“Hari ini mau masak apa?” Tanya Lexa.

“Rahasia.” Jawab Nathalie singkat dan penuh rahasia.

“Curang! Masa menu makan siang saja dirahasiakan?”

“Supaya kamu tidak pilih-pilih makanan nanti.” Mereka terus bertengkar mulut sambil tertawa. Dari kejauhan, Raja Alfred melihat mereka sambil tersenyum. Ia berpikir, ia memang tidak salah memilih anak saat ia menentukan siapa yang ingin diadopsi. Walau sikapnya liar, tinggal menunggu waktu saja untuk mengubahnya menjadi wanita yang anggun dan terhormat.

 

Sampai di ruang makan, Lexa duduk di balkon sambil berandai-andai menu makan siangnya adalah spaghetti, sup jagung dan steak. Lexa memang banyak makan tapi ia tidak sembarangan memakan makanan. Ia membutuhkan lemak untuk berlatih bela diri bersama ayahnya dan instrukturnya. Ia berlatih setiap, jelas membutuhkan tenaga yang banyak untuk berlatih. Ketika ia terus sibuk berandai-andai, seseorang datang dari arah belakang Lexa sambil mengendap-endap. Ia pun langsung menutup kedua mata Lexa dari belakang. Lexa terkejut, tapi keterkejutannya hanya satu detik dan bibirnya mulai membentuk senyuman.

“Erick! Sampai kapanpun kamu tidak akan membuatku kaget sekaget-kagetnya.” Orang yang bernama Erick itu langsung melepaskan tangannya dan tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha, instingmu selalu tepat ya, Lex. Tidak pernah salah.” Mereka pun tertawa bersama. Pria yang bernama lengkap Ricardo Avalon von Scheidner ini adala sepupu jauh Lexa. Mereka berteman sejak kecil dan sering bermain bersama. Karena sering bersama, Lexa punya sedikit perasaan terhadap Erick. Entah Erick mempunyai perasaan yang sama atau tidak.

 

“Kapan datang? Kok aku tidak tahu ya?” Tanya Lexa.

“Kamu ketinggalan berita terus. Hahaha. Bohong deh, sebenarnya aku iseng saja datang ke sini. Aku capek mengurusi si kecil yang rewel. Ia selalu membuatku bingung mencarinya kalau dia pergi dari luar mansion.”

“Si kecil yang rewel? Maksudmu Jessica?”

“Ya, kemarin dia pergi ke arah pasar Holly yang jaraknya 3 jam perjalanan.”

“Wajarlah, dia kan ingin menjelajah negeri Stera. Dan kamu terus memanggilnya anak kecil.”

“Tapi tidak sampai merepotkanku. Dia memang anak kecil.”

“Pantas ia selalu kabur darimu, gadis umur 18 tahun mana yang ingin dipanggil anak kecil. Seharusnya kamu yang dipanggil anak kecil. Umur sudah 20 tahun, tapi masih saja bertingkah seperti anak kecil. Memalukan untuk seorang Erick.” Lexa tertawa terbahak-bahak dan tiba-tiba pipi Lexa dicubit oleh Erick yang ikut tertawa.

“Bagus  ya, bilang apa tadi? Anak kecil? Hahaha.” Dengan sigap, Lexa menangkis cubitan Erick dan membantingnya. BRUAK! Suara badaN Erick yang terkena lantai akibat dibanting oleh Lexa bergema di ruang makan. Kali ini giliran Lexa yang tertawa. Ia pun membantu Erick berdiri.

“Bantinganmu sudah lebih kuat dari yang kemarin.” Kata Erick sambil menahan sakit.

“Berlatih tiap hari, bagaimana tidak kuat bantinganku?”

“Iya iya. Sekarang sudah tengah hari, makan yuk?”

“Oke!” baru berjalan beberapa langkah, Erick dilempari kue oleh seorang gadis yang berada di belakang mereka. Raut wajah gadis itu terlihat sangat… marah.

“Erick! Dengar baik-baik. Aku paling tidak suka dipanggil anak kecil oleh orang sepertimu!” rupanya, gadis tersebut adalah Jessica. Erick membersihkan kue yang berada di wajahnya.

“Dan aku paling malas mencari anak hilang sepertimu! Selalu aku yang disuruh mencarimu kalau kamu kabur dari mansion !” Lexa mendapatin aura ketegangan yang kuat diantara mereka.

“Sudah, kalian tidak usah bertengkar…”

“DIAM!” bentak Erick dan Jessica. Lexa pucat dan sedikit ketakutan. Jessica mengambil kue dari meja makan dan melemparnya ke arah Erick. Sayangnya, ketika Erick menghindar, Lexa tidak menyadari kalau kue yang dilempar Jessica menuju ke arahnya. Dan… JREB! Wajah Lexa berlumuran saus coklat. Ia pun mulai geram dan membalas lemparan itu ke arah Jessica. Bersamaan dengan itu, Nathalie datang dari arah belakang Jessica.

“Waktunya makan siang semua… KYAA!” Sialnya, lemparan kue Lexa malah kena wajah Nathalie. Ia pun terjatuh ke belakang, karena saking kuatnya dorongan dari kue yang di lempar Lexa.

“Oops!” kata Lexa sambil menutup wajahnya. Nathalie berdiri dan mengambil kue yang ada di dekatnya dan melemparkannya ke arah Lexa dan terkena Erick.

“Bingo!” teriak Lexa dan Jessica saat kue yang Nathalie lempar kena wajah Erick.

“Kerja yang bagus, Nathalie!” kata Lexa.

“Lain kali, lempar pakai pisau saja!” sambung Jessica. Mereka saling mengedipkan mata dan menertawakan Erick. Nathalie juga ikut tertawa di belakang Lexa dan Jessica. Tiba-tiba…

“Alexandrina Etoile! Ricardo Avalon! Jessica Ryena! Nathalie Noella! Apa yang kalian perbuat?!” bentak Raja Alfred belakang mereka. Mereka semua berbalik dan menunduk.

“Lihat! Ruang makan yang tadinya sudah rapi, sekarang berantakan tidak karuan! Sebagai hukuman, kalian harus membersihkan semua yang berantakan! Mengerti?!”

“Mengerti, Paduka Raja…” kata mereka sambil memungut kue-kue yang berserakan. Setelah selesai, mereka membersihkan diri dan mengganti baju mereka. Untung saja Erick dan Jessica membawa pakaian untuk satu minggu. Ternyata Erick memang tidak hanya sekedar iseng untuk datang ke istana. Setelah semuanya rapi, Raja Alfred menyuruh seluruh orang-orang di istana untuk berkumpul.

“Seperti yang kita ketahui, Negeri Zarashvino dan Negeri Stera telah lama bersitegang. Karena seluruh rakyat dari negeri kita, maupun dari negeri tetangga ingin berdamai, maka kita akan mengadakan jamuan persahabatan siang ini. Mereka akan datang 2 jam lagi, jadi, segera bersiap-siap untuk menyambut mereka.” Setelah pemberitahuan itu, mereka bubar dan mempersiapkan kedatangan para petinggi Negeri Zarashvino.

 

Nathalie sedang istirahat di taman. Ia baru selesai memasak 4 kue besar untuk makan siang nanti bersama wakil dari Negeri Zarashvino. Karena agak sepi, ia pun bersenandung pelan. Ketika sedang asik-asiknya bersenandung, tiba-tiba ia mendengar suara kayu yang terinjak. Ia pun kaget dan melihat sekeliling. Ternyata tidak ada apa-apa. Ia terus bersenandung dan memakan cookies kecil buatannya. Lalu, ia mendengar suara kayu yang terinjak lagi. Nathalie menjadi curiga. Ia mengendap-endap ke sumber suara yang berada di semak-semak yang rimbun. Ia terus berusaha menyembunyikan keberadaannya dan…

“Kalau mau selamat, sebaiknya kau diam.” Kata seseorang sambil membekap mulut Nathalie.

“HMPP!” jerti Nathalie. Ia terus memberontak, tetapi begitu ia melihat siapa yang membekapnya, ia terdiam.

“Pange…ran… Vinov!”jerit Nathalie sekali lagi. Vinov pun membekap mulut Nathalie lagi.

“Ssstt! Jangan teriak! Nanti mereka akan menangkapku dan menyeretku ke dalam makan siang nanti.” Bisik Vinov sambil melihat-lihat keadaan. Tampak pengawal-pengawal Vinov sedang ribut mencari putra mahkota kerajaan Negeri Zarashvino itu. Nathalie melepas bekapan Vinov dengan paksa dan menarik nafas panjang.

“Haaah. Kenapa kamu tidak ingin pergi ke acara makan siang yang diadakan oleh Negara kami?”

“Malas,” Jawab Vinov dengan singkat, padat, jelas dan menjengkelkan.

“Hmm, sepertinya wajahmu mirip Putri Alexandria.” Sambung Vinov.

“Alexandrina. A-L-E-X-A-N-D-R-I-N-A.” kata Nathalie sambil membetulkan nama kembarannya.

“Iya, itu maksudku. Kamu mirip sekali dengan dia.”

“Bisa saja. Banyak yang bilang begitu kok. Tapi sebenarnya tidak.” Nathalie pun berbohong. Vinov mengangguk pelan. Suasana menjadi hening sejenak. Vinov melihat wajah Nathalie. Pipi Nathalie bersemu merah, ia pun mengalihkan pandangannya.

“Apa?” ujar Nathalie ketus.

“Tidak apa-apa. Kurasa, aku menyukaimu.” Kata Vinov sambil tersenyum jahil. Wajah Nathalie kini semerah tomat rebus.

“Tidak usah menggodaku!” Nathalie pun beranjak dari tempat itu, tetapi dihalang oleh Vinov. Lengan kanan Nathalie dipegang erat.

“Tunggu!” kata Vinov. Nathalie pun berhenti.

“Apalagi maumu?”

“Aku tidak menggodamu.”

“Lalu?”

“Aku serius.”

“Seorang pangeran tidak akan menyukai orang biasa sepertiku.”

“Tapi aku iya.” Nathalie tidak tahan lagi. Ia pun kembali pergi dari tempat itu dan Vinov menarik tangannya dan mengecup pipi Nathalie.

“Itu tanda keseriusanku. Aku pergi dulu. Semoga aku dapat menemuimu lagi nanti.” Vinov pun pergi dari sana, meninggalkan Nathalie yang terdiam. Nathalie kembali tersadar dan pergi ke dapur dengan wajah yang memerah. Ia menyadari kalau ia sedang jatuh cinta.

 

Tepat saat makan siang, semua para petinggi Negeri Stera dan Negeri Zarashvino, telah berkumpul di ruang makan. Nathalie sibuk di dapur, Lexa sibuk menemani ayah dan ibu angkatnya. Ketika kedua petinggi kedua Negara tersebut bertemu, suasana sangat hangat. Raja Alfred sedang berbincang-bincang dengan Raja Dmitry Ivankoshva. Begitu juga dengan Ratu Cecillia dan Ratu Anastasia Ivankoshva. Lexa pun memilih untuk menyendiri di balkon paling ujung. Nathalie tidak bias datang ke tempatnya sekarang. Ia sedang sibuk mengantar makanan untuk makan siang. Ia pun melamun. Tiba-tiba…

“Dor!” kejut Vinov.

“Kyaa!” jerit Lexa. Ia pun berbalik dan cemberut.

“Vinov! Kurang ajar! Jangan pernah mengagetkanku lagi!”

“Maaf, Tuan Putri. Tapi aku ingin bertanya satu hal padamu.”

“Apa itu?”

“Aku tertarik dengan gadis yang memakai bandana biru. Siapa namanya?” Vinov menunjuk kearah Nathalie.

“Oh, namanya Nathalie. Asisten pribadiku. Jangan coba-coba dekati dia, atau aku tidak akan menjamin kamu akan hidup besok.” Kata Lexa sinis.

“Wow! Galak sekali putri kecil ini.” Vinov tertawa, Lexa semakin kesal.

“Katamu dia adalah asisten pribadimu, apa benar hanya sekedar ‘asisten’?”

“Semua orang juga tahu kalau dia adik kembarku.” Vinov sedikit terkejut.

“Suatu kejutan. Jadi, dia memang bukan sekedar koki dan asisten. Sudah kuduga.”

“Lalu apa rencanamu?” kata Lexa menyelidiki maksud Vinov.

“Tidak ada apa-apa. Aku ingin bertemu dengan dia lagi suatu hari nanti.”

“Baiklah, aku biarkan kamu bertemu dengannya. Kalau kamu membuatnya kecewa, kamu akan menyesal nanti.”

“Setuju.” Dari kejauhan, Nathalie melihat mereka.

 

Pada malam hari, Lexa berbicara mengenai Vinov ke Nathalie.

“Bagaimana dengan Vinov, Nath?” Tanya Lexa. Pertanyaan Lexa membuat Nathalie gugup.

“Hah? Ma…maksud…mu?”

“Jangan pura-pura, aku tahu kamu menyukai Vinov.” Wajah Nathalie memerah.

“Ya, kamu benar. Sepertinya aku jatuh cinta dengannya. Tapi, itu mustahil.”

“Kenapa?” Tanya Lexa heran.

“Mungkin ia menyukaimu. Aku lihat kamu sedang berbicara dengan akrab.” Nathalie tertunduk.

“Hahaha! Masa aku suka dengan cowok yang tidak jelas itu? Aku kan menyukai Erick.”

“Hah?! Yang benar? Kok kamu tidak bilang-bilang aku?”

“Kan rahasia. Hehehe.”

“Jahat!”

“Maaf, maaf. Tapi sepertinya Vinov menyukaimu tuh.”

“Terserah deh!” Nathalie langsung ke tempat tidur. Lexa menyusulnya.

“Tapi, kelihatannya Erick menyukaimu tuh, Lex! Haha!” Kali ini wajah Lexa yang memerah.

“Terserah deh!” Lexa menutup wajahnya dengan selimut. Lalu mereka berdua tertawa.

“Semuanya pasti akan baik-baik saja.” Kata Lexa.

“Iya. Pasti.” Sambung Nathalie. Malam pun semakin menjelang, semuanya akan baik-baik saja.

FIN