Gwen dan Lyra terbangun dari tidurnya. Mereka tidak menyangka kemarin sudah terjadi peristiwa yang hampir membuat mereka kehilangan nyawa. Tapi, mereka tetap harus mencari Jill dan Chris. Gwen mengangkat tasnya dan Lyra mengisi peluru pistol Gwen dan shotgun miliknya. Barang bawaan mereka memang berat. Tapi, mereka sudah terbiasa dengan itu semua. Hanya saja, dihadapkan oleh para zombie, mereka tak akan terbiasa. TOK TOK!! Ada suara ketukan di jendela. Gwen merasakan firasat buruk. TOK TOK!! Suara itu terdengar lagi. Karena penasaran, Lyra menarik lemari yang menghalangi dan membuka jendela. Tiba-tiba… BRAKK!! Jendela rusak karena dihantam oleh zombie yang bertubuh besar. Lyra terjatuh akibat hantaman dari zombie itu.
“Gwen!!”, teriak Lyra. Gwen yang mendengar teriakan adiknya, langsung lompat dari lantai atas. Ia mengarahkan mulut pistol ke kepala zombie besar itu. Ia menarik pelatuk pistol beberapa kali, sampai akhirnya kepala zombie itu pecah. Akan tetapi, dari leher zombie itu, muncul tentakel yang besar. Tentakel itu melilit leher Lyra dan ia diseret sampai jendela. Lyra meronta-ronta, ingin melepaskan diri. Gwen mengeluarkan pisau dari saku celananya dan memotong tentakel itu sampai putus. Seketika itu juga, ia melihat sabit untuk memotong rumput. Lalu, Gwen membelah tubuh zombie itu menjadi dua bagian. Usus dan otaknya berceceran.
“Yaiks!! Kalau ingin membelah tubuh, sebaiknya jangan dari bawah ke atas. Jadi jijik melihatnya.”, kata Lyra sambil mengelus lehernya habis terjerat oleh tentakel zombie itu. Gwen segera mengangkat tasnya.
“Setidaknya kamu selamat, Ra.”, kata Gwen sambil mendorong meja yang menghalangi pintu. Lalu, Gwen dan Lyra pergi dari rumah itu.
Mereka tidak tahu tujuan mereka kemana. Mereka terus berjalan sampai akhirnya Lyra melihat banyak orang yang berkumpul di depan gereja tua. Lyra memantau keadaan dengan lihat didepannya dengan teropong. Ternyata itu zombie-zombie yang sedang mengelilingi sebuah tiang. Entah apa mereka lakukan, yang jelas itu berbahaya bagi Gwen dan Lyra. Lyra maju beberapa langkah dan Gwen memperingatinya.
“Lyra! Hati-hati!”, peringat Gwen. Lyra mengangguk. Baru sepuluh langkah, Lyra hilang ditelan kabut. Gwen kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba terdengar teriakan Lyra disana.
“GWEN!!!”, teriak Lyra. Gwen berlari dan menyiapkan dual machine gun untuk membantai zombie-zombie disana. Seketika itu juga, Gwen melihat adiknya diseret dan diikat di tiang yang Lyra lihat. Salah satu dari zombie itu ada yang membawa api. Gwen melihat kayu bakar yang banyak. Gwen pun menembaki seluruh zombie yang ada disana. Ia takut Lyra terbunuh. Ia tidak peduli tembakannya tepat sasaran atau tidak. Yang penting adiknya selamat. Zombie yang memegang api tersebut akhirnya jatuh. Akan tetapi, api itu terjatuh tepat pada kayu bakar itu. Satu-persatu kayu itu terbakar. Gwen berlari kencang untuk menyelamatkan Lyra.
“GWEN!! TOLONG AKU!!”, Lyra merasakan kakinya mulai panas. Apinya menjalar semakin besar. Gwen panik, sangat panik. Api itu hampir membungkus tubuh Lyra. Gwen berlari, sangat kencang dan menendang tiang yang menyangga tubuh Lyra. Lyra terjatuh dan Gwen memotong tali yang mengikat Lyra. Seketika itu juga, ia melihat sebuah gereja yang besar.
“Lyra, disana ada sebuah gereja. Pergilah kesana, aku akan menyusul.”, kata Gwen sambil membantu Lyra berdiri.
“Kamu mau kemana, Gwen?”, kata Lyra lemah. Gwen mengeluarkan granat dari dalam sakunya.
“Gwen, jangan-jangan…”, ucapan dari mulut Lyra berhenti saat Gwen tersenyum padanya. Lyra mengangguk dan menuju gereja itu. Gwen menunggu para zombie itu bangkit dan mengejarnya. Sedetik kemudian, Zombie-zombie itu bangun dan berlari mengejar Gwen. Ia pun lari menuju gereja dan melemparkan granat itu. Tiba-tiba.. DUAR!! Para zombie itu hancur. Gwen pun berhenti untuk memperhatikan keadaan. Setelah semua hangus terbakar, Gwen pun menyusul Lyra.
Sementara itu, Lyra sedang berjalan tertatih-tatih. Luka bakar dikakinya membuat Lyra berjalan pelan. Ketika sampai diruang misa, ia duduk di bangku tempat para jemaat duduk. Ia memperhatikan sekeliling, suasan gereja itu terkesan gothic dan misterius. TAP. Ada suara langkah kaki. ‘Pasti itu Gwen,’, kata Lyra dalam hati. Ia menoleh kebelakang. Tidak ada siapapun. Ia heran mengapa tidak pun yang berada disana. ‘Paling itu suara benda jatuh.’, kata batin Lyra. Tapi suara langkah itu makin dekat dengannya. Kali ini, ia merasa tidak tenang. Ia pun menuju ketempat suara itu berasal. Baru selangkah berjalan, tiba-tiba.. BRAKK!! Bangku yang Lyra duduki hancur. Untung Lyra sempat menghindar dari serangan. Ia melihat siapa yang menyerangnya. Ternyata zombie yang bertubuh raksasa. Zombie itu membawa palu besar yang bisa menghancurkan bangku gereja. Kaki Lyra gemetar. Ia tidak memegang senjata apapun. Zombie itu menyerang Lyra lagi, kali ini berhasil menghindar. Lyra melihat sekelilingnya. Ada kayu bekas bangku yang terlihat tajam. Tapi kayu itu ada di kaki zombie tersebut. Ia melihat ada sedikit celah. Lyra pun berlari ke arah zombie itu. Zombie itu ingin memukulnya tetapi, Lyra menjatuhkan dirinya dan berhasil mengambil kayu tersebut. Tiba-tiba.. DUAK!! Punggung Lyra dihantam oleh palu yang dipegang oleh zombie itu. Lyra terpental dan menabrak tembok. Ia merasa tulang punggungnya patah, tapi ia yakin bisa mengalahkan zombie itu. Ia berlari lagi dan menusukkan kayu yang ditangang Lyra ke wajah zombie itu. Zombie besar itu pun berteriak kesakitan. Dalam kesempatan itu, Lyra berlari dan.. DASH!! Ia menendang kepala zombie itu sekuat tenaga sampai kepala itu terpental. Banyak dara yang mengucur dari lehernya.
“Fuh, hampir saja. Sekarang tinggal menunggu Gwen.”, kata Lyra santai sambil duduk di bangku kembali. Tentunya bukan yag dirusak oleh zombie tadi.
Lain halnya dengan Gwen. Ia masih menyusul adiknya. Kemudian ia berhenti, karena ada banyak zombie yang berada di depan gereja, yang sepertinya mengincar Lyra. Gwen pun bersiul untuk menarik perhatian para zombie itu. Zombie-zombie itu menoleh dan ingin menyantap Gwen. Gwen mengeluarkan dua buah Machine Gun dan menembakkan ke arah zombie-zombie itu. Memang, para zombie itu tumbang. Tetapi ada sepuluh zombie yang lolos dari tembakan Gwen. Terpaksa Gwen membuat mereka tak bergerak lagi dengan tangan kosong. Gwen melakukan hal yang sama seperti Lyra, berlari danmenendng kepala zombie itu sampai putus. Lalu, ia meninju dada dari salah satu zombie itu sampai jantungnya keluar. Sepuluh zombie-zombie itu tumbang juga akhirnya. Gwen membersihkan tangannya yang penuh darah.
“Sepertinya tanganku akan bau amis.”, kata Gwen sambil tertawa. Ia tidak tahu dibelakangnya ada zombie yang mendatanginya. Zombie itu mengikat leher Gwen dan menyeret Gwen. Tiba-tiba zombie itu berhenti dan kepala zombie itu terjatuh dihadapan Gwen. Ia terkejut dan penasaran siapa yang melakukannya. Ia pun berdiri dan berbalik. Ada sesosok laki-laki yang memegang pedang, tersenyum padanya. Laki-laki yang ia kenal sebagai sahabatnya.
“Sander??”, pekik Gwen.
“Hai Gwen. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? Dimana Lyra?”, tanya Sander.
“Tidak lihat aku hampir mati tadi. Kalau Lyra.. Dia ada di gereja itu. Aku ingin menjemput Lyra dan tidak ingin berbicara denganmu. Sampai nanti Sander.”, Gwen ingin pergi tetapi tangannya ditarik Sander.
“Aku ikut denganmu.”, kata Sander lembut. Gwen sempat berpikir kalau laki-laki ini mulai terganggu akal sehatnya, tetapi setelah melihat raut wajah Sander yang serius, Gwen mengangguk.
“Baiklah! Ayo kita pergi!”, kata Gwen semangat. Mereka berlari menuju gereja.
Di gereja, Lyra masih duduk dan berdoa.
“Ya Tuhan., semoga Gwen selamat! Aku yakin ia pasti cepat datang kesini dan menyelamatkanku!”, kata Lyra dengan mata terpejam dan tubuh gemetar. Ia sangat cemas dengan keselamatan Gwen. Ia takut Gwen mati. Sangat takut. Ditengah ketakutannya itu, ia mendengar suara langkah kaki, kali ini suara langkahnya lebih besar dan getaran langkahnya sangat kuat, sampai-sampai Lyra bisa merasakan bangku yang ia duduki bergetar. Lyra menjadi ketakutan setengah mati. Pikirannya sangat kacau, ia menjadi panik berat dan tidak tahu harus berbuat apa. Seketika itu juga, ia melihat kayu bekas bangku rusak, yang ia jadikan sebagai senjata. Ia pun bangkit dan mencabut kayu tersebut. Lyra menghadap ke arah suara langkah itu. Semakin lama, suara langkah kaki itu semakin keras. Lyra mencengkram kayu itu dengan erat. Tubuhnya semakin gemetar, ketakutannya semakin menjadi, airmatanya pun keluar dengan deras. Tapi tidak ada cara lain selain menghadapi makhluk yang akan memangsanya. Makhluk itu semakin dekat dengan Lyra dan menampakkan wujudnya. Melihat wujud makhluk itu, Lyra semakin takut. Zombie itu berbadan besar, seperti orang obesitas, kepala zombie itu hanya setengah, makhluk itu tidak mempunyai tangan dan ia berlendir. Lyra terus mundur, sampai akhirnya ia terpojok. Lyra pun melemparkan kayu yang ada di tangannya. Kayu itu sempat tertancap di wajah makhluk itu. Lyra senang sekali, akan tetapi, kesenangannya tidak berlangsung lama. Zombie itu tetap berjalan mendekatinya dengan kayu yang tertancap diwajahnya. Lyra tidak punya senjata lagi. Ia sudah pasrah dengan keadaan.
“Ya Tuhan, semoga Gwen tidak terlambat..”, kata Lyra pasrah.
“Lyra!!”, teriak Gwen dari belakang. Lyra bangkit dan berlari dari zombie raksasa itu. Gwen menembakkan kepala zombie itu sampai pecah. Sander pun juga membantu Gwen dengan membelah tubuh zombie itu menjadi dua. Zombie itu akhirnya tidak bergerak. Lyra berlari ke arah Gwen dan memeluknya. Karena Lyra menabraknya dengan keras, Gwen terjungkal kebelakang.
“Oh, Gwen!! Syukurlah kau selamat. Aku sangat takut!”, kata Lyra terbata-bata. Gwen dan Sander menenangkannya.
“Lyra, kamu sudah aman sekarang.”, kata Gwen lembut.
“Kami selalu menjagamu kok.”, sambung Sander. Lyra menoleh ke arah Sander. Ia terkejut.
“Sander! Mengapa kamu di sini? Di sini kan berbahaya!”, ujar Lyra.
“Aku ditugaskan sama seperti kalian. Membantu Chris dan Jill. Aku mendapat kabar dari pemerintah, kalau kalian ditugaskan untuk membantu Chris dan Jill.”, kata Sander panjang lebar. Lyra mengangguk mengerti.
“Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Setidaknya kita aman untuk hari ini.”, kata Gwen. Ia menaruh tasnya dan mengeluarkan makanan untuk Lyra dan Sander.
“Siapa yang mau makan?”, kata Gwen sambl menunjukkan makanan dari dalam isi tasnya.
“Aku!!”, teriak Lyra dan Sander bersamaan. Sehabis makan, mereka tertidur dengan pulas. Kecuali Gwen yang memikirkan dua orang yang berada disampingnya.
“Semoga besok menjadi lebih baik dari hari ini.”, harap Gwen seraya memejamkan matanya.


